topbella

Selasa, 07 Mei 2013

Behavioral Therapy


 

 
Behavioral Therapy
Teori behavioral berasal dari konsepsi yang dikembangkan oleh hasil – hasil penelitian psikologi eksperimental terutama dari Pavlov dengan classical conditioning-nya  dan B.F. Skinner dengan operant conditioning-nya, yang menurutnya berguna untuk memecahkan masalah – masalah tingkah laku abnormal dari yang sederhana  ( hysteria, obsesional neurosis, paranoid) sampai pada yang kompleks ( seperti  phobia, anxiety, dan psikosa ), baik untuk kasus individual maupun kelompok.
Pendekatan behavioral juga merupakan suatu pendekatan terapi tingkah laku yang berkembang pesat dan sangat popular, dikarenakan memenuhi prinsip – prinsip kesederhanaan, kepraktisan, kelogisan, mudah dipahami dan diterapkan, dapat didemonstrasikan, menepatkan penghargaan khusus pada kebutuhan anak, serta adanya penekanan perhatian pada perilaku yang positif.
 
         A.   Konsep utama
Dalam pandangannya tentang hakekat manusia, teori behavioral menggap bahwa pada dasarnya manusia bersifat mekanistik dan hidup dalam alam yang daeterministik, dengan sedikit peran aktifnya untuk memilih martabatnya. Perilaku manusia adalah hasil respon terhadap lingkungan  dengan control yang terbatas dan melalui interaksi ini kemudian berkembang pola- pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian.
Dalam konsep behavioral perilaku manusia merupakan hasil dari proses belajar, sehingga dapat di ubah dengan memanipulasi kondisi- kondisi belajar. Dengan demikian, teori behavioral hakekatnya merupakan aplikasi prinsip – prinsip dan teknik belajar secara sistematis dalam usaha menyembuhkan gangguan tingkah laku. Asumsinya bahwa gangguan tingkah laku itu diperoleh melalui hasil belajar yang keliru, sehingga dapat lebih sesuai.
  B.  Aplikasi Dalam Therapy
Pendekatan behavioral yang memusatkan perhatian kepada perilaku yang tampak, mengindikasikan bahwa dalam pelaksaaan Therapy yang perlu diperhatiakan adalah pentingnya konselor untuk mencermati permasalahan – permasalahan penyimpangan perilaku klien yang ditampilkan untuk selanjutnya merumuskan secara jelasa tentang perubahan- perubahan yang dikehendaki, keterampilan – keterampilan baru apa yang diharapkan dimiliki klien dan bagimana keterampilan baru tersebut dapat dipelajari.
    C. .Tujuan
Tujuan behavioral therapy  adalah menghilangkan tingkah laku yang salah sesuai ( maladaptive) dan menggantikannya dengan tingkah laku baru yang lebih sesuai. Secara rinci tujuan tersebut adalah untuk :
a.       Menghapus pola- pola perilaku maladaptive anak dan membantu mereka mempelajari pola- pola tingkah laku yang lebih konstruktif.
b.       Mengubah tingkah laku maladaptive
c.        Dan menciptkan kondisi- kondisi yang baru yang memungkinkan terjadi proses belajar ulang.
   D.   Fungsi dan Peranan
Penerapan prinsip – prinsip belajar dalam pendekatan behavioral telah menepatkan pentingnya fungsi dan peranan sebagai pengajar. Dalam pendekatan kognitif behavioral dari Bandura, dijelaskan bahwa kebanyakan belajar perilaku baru diperoleh melalui pengalaman – pengalaman langsung maupun dari pengalaman orang lain melalui proses mencontoh atau identifikasi. Untuk itu penting bagi konselor untuk menyadari dampak dari setiap sikap dan perilakunya, karena akan menjadi salah satu sumber belajar ( model ) bagi klien dalam mengatasi masalah – masalahnya.
Proses konseling adalah melaksanakan assesmen dan penilaian secara terus menerus, menetapkan sasaran perubahan perilaku dan bagaimana mengajarkan untuk mencapainya , peka terhadap perubahan- perubahan yang terjadi, serta membantu mengembangkan tujuan- tujuan pribadi dan sosialnya. Untuk itu penting bagi konselor untuk memahami dan menguasai teknik –teknik yang tepat sesuai permasalahan yang dihadapi anak dan tujuan yang diharapkan dicapai.
   E.   Proses dan teknik
a)       Dalam proses Therapy , sekalipun dalam pendekatan behavioral hubungan pribadi bukan merupaka unsure yang menentukan bagi keberhasilanTherapy, namun para ahli umumnya sepakat bahwa hubungan pribadi tersebut harus tetap ditegakkan karena dapat mempengaruhi proses therapeutic. Untuk itu, konselor hendaknya tetap berupaya untuk mengembangkan hubungan yang penuh kehangatan, keaslian, dan empahti.
b)       Teknik yang biasa digunakan dalam pendekatan atau metode behavioral therapy  :
1)       Desentisisasi sistematis, yaitu suatu cara yang digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperbuat secara negative dengan menyertakan pemunculan tingkah laku yang berlawanan dengan tingkah laku yang hendak dihapuskan. Salah satu caranya adalah dengan melatih anak untuk santai dan mengasosiasikan keadaan dengan pengalaman – pengalaman pembangkit kecemasan.
2)       Latihan asertif, yaitu latihan mempertahankan diri akibat perlakuan orang lain yang menimbulkan kecemasan, dengan cara mempertahankan hak dan harga dirinya. Latihan ini tepat untuk anak – anak yang mengalami kesulitan dalam perasaan yang tidak sesuai dalam menyatakan, misalnya, bagi mereka sulit untuk berkata “ tidak “, tidak dapat menyatakan kemarahannya, atau merasa tidak punya hak untuk menyatakan pikiran dan perasaannya. Dalam pelaksaaan teknik ini, penting bagi konselor untuk melatih keberanian anak untuk berkata atau menyatakan pikiran dan perasaan yang saesungguhnya secara tegas.
3)       Terapi aversi, digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk atau menghukum perilaku yang negative dan memperkuat perilaku positif, dengan meningkatkan kepekaan klien agar mengganti respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut, dibarengi dengan stimulus yang merugikan dirinya.
4)       Pengehntian pikiran. Teknik ini efektif digunakan untuk klien yang sangat cemas.
5)       Control diri, dilakukan untuk meningkatkan perhatian pada anak tugas- tugas tertentu, melalui prosedur  self assessment, mencatat diri sendiri, menentukan tindakan diri sendiri, dan menyusun dorongan diri sendiri.
6)       Pekerjaan rumah. Yaitu dengan memberikan tugas atau pekerjaan rumah kepada klien yang kurnag mampu menyesuaikan diri dengan situasi tertentu.
   F.     Kelebihan dan kekurangan
a.       Kelebihan
Pembuatan tujuan terapi antara konselor dan konseli diawal dijadikan acuan keberhasilan proses terapi. Memiliki berbagai macam teknik konseling yang teruji dan selalu diperbaharui, waktu konseling relatif singkat,  kolaborasi yang baik antara konselor dan konseli dalam penetapan tujuan dan pemilihan teknik.
b.       Kekurangan  Terapi Behavioral:
Dapat mengubah perilaku tetapi tidak mengubah perasaan,  mengabaikan faktor    relasional penting dalam terapi, tidak memberikan wawasan, mengobati gejala dan bukan penyebab, melibatkan kontrol dan manipulasi oleh konselor.

 
Sumber : Sunardi , P. & Assajari, M. ( 2008). Teori Konseling. Bandung : PLB FIP UPI.
Corey, Gerald. (2009). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama.

0 komentar:

Posting Komentar

 
FiHan© Diseñado por: Compartidisimo