topbella

Minggu, 21 Oktober 2012

Akulturasi dan Relasi Internakultural





Akulturasi Dan Relasi Internakultural
Nama : Hany Fitriani
Kelas : 3 PA05
Npm : 19510266

Pengertian
Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri. Contoh akulturasi: Saat budaya rap dari negara asing digabungkan dengan bahasa Jawa, sehingga menge-rap dengan menggunakan bahasa Jawa. Ini terjadi di acara Simfoni Semesta Raya.
Di dalam ilmu sosial dipahami bahwa akulturasi merupakan proses pertemuan unsur-unsur kebudayaan yang berbeda yang diikuti dengan percampuran unsur-unsur tersebut namun perbedan diantara unsur-unsur asing dengan yang asli masih tampak. Menurut Herskovitz, Linton, Redfield (dalam Berry, 1999) akulturasi dipahami sebagai fenomena yang akan terjadi tatkala kelompok-kelompok individu yang memiliki budaya berbeda terlibat dalam kontak yang berlangsung secara tangan pertama (langsung) yang selanjutnya berpindah kepada orang lain sejalan dengan pola budaya asal dari kelompok tersebut. Secara psikologis, dampak dari akulturasi adalah stress pada individu-individu yang berinteraksi dalam pertemuan-pertemuan kultur tersebut.
Berikut ada Contoh-contoh dari hasil akulturasi budaya sangat beraneka ragam. Dalam bidang kesenian, arsitektur, agama dan lain-lain. Di antaranya :
1.      Bentuk bangunan Masjid Sunan Kudus adalah salah satu akulturasi antara Hindu-Islam.
2.     Candi-candi di Indonesia sebagai wujud percampuran antara seni asli bangsa Indonesia dengan seni Hindu-Budha. Candi merupakan bentuk perwujudan akulturasi budaya bangsa Indonesia dengan India. Candi merupakan hasil bangunan zaman megalitikum yaitu bangunan punden berundak-undak yang mendapat pengaruh Hindu Budha. Candi Borobudur merupakan wujud dari akulturasi antara agama Hindu-Budha di Indonesia.
3.     Bangunan rumah di daerah Kota, Jakarta Utara dan Juga Museum Fatahillah Jakarta merupakan wujud akulturasi dari kebudayaan yang dibawa oleh bangsa-bangsa Eropa ketika menjajah Indonesia. Bangunan Museum Fatahillah menyerupai Istana Dam di Amsterdam, yang terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara.
4.   Selain dalam bidang arsitektur, akulturasi budaya juga berpengaruh dalam bidang kesenian. Cabang seni rupa yang berkembang adalah seni ukir dan seni lukis. Pola-pola hiasannya meniru zaman pra-islam, seperti daun-daunan, bunga-bungaan, bukit-bukit karang, pemandangan, garis-garis geometri, kepala kijang, dan ular naga. Contoh, masjid yang di hias dengan ukiran adalah masjid Mantingan, dekat jepara yang terdapat lukisan kera, ukiran gapura di candi Bentar di Tembayat, Klaten, yang dibuat pada masa Sultan Agung pada tahun 1633, dan gapura Sendang Duwur di Tuban. Pada zaman islam juga berkembang seni rupa yang disebut kaligrafi, yaitu seni menulis indah .
5. Perwayangan di daerah jawa dan sekitarnya yang mengangkat cerita Ramayana dan Mahabarata merupakan wujud akulturasi kebudayaan antara Hindu-Budha di bidang kesenian.
6.    Tari Betawi. Sejak dulu orang Betawi tinggal di berbagai wilayah Jakarta. Ada yang tinggal di pesisir, di tengah kota dan pinggir kota. Perbedaan tempat tinggal menyebabkan perbedaan kebiasaan dan karakter. Selain itu interaksi dengan suku bangsa lain memberi ciri khas bagi orang Betawi. Tari yang diciptakanpun berbeda. Interaksi orang Betawi dengan bangsa Cina tercipta tari cokek, lenong, dangambang kromong.
7.     Alat musik Tanjidor selain mendapat pengaruh dari budaya Cina, kesenian Betawi dipengaruhi oleh beragam budaya dari Eropa. Orkes Tanjidor, misalnya, mulai ada sejak abad ke-18. Konon salah seorang Gubernur Jenderal Belanda, Valckenier menggabungkan rombongan 15 orang pemain alat musik tiup Belanda dengan pemain gamelan, pesuling Cina, dan penabuh tambur Turki untuk memeriahkan pesta.
8.     Orkes Gambus. Budaya Timur Tengah ternyata juga memiliki pengaruh kuat dalam khasanah Betawi, hal ini terbukti bahkan sampai saat ini di seantero Jakarta terdapat puluhan grup orkes gambus. Orkes ini biasanya ditampilkan di acara pesta perkawinan untuk mengiringi para penyanyi gambus baik laki maupun perempuan. Mereka biasanya membawakan lagu-lagu gambus dengan lirik religius maupun lagu-lagu cinta berbahasa Arab.
9.    Wayang Betawi. Salah satu produk budaya Betawi hasil akulturasi dari budaya Jawa dan Sunda adalah wayang. Namun demikian, pengaruh Sunda lebih tampak dalam kesenian ini. Mungkin secara geografis memang lebih dekat. Misalnya dalam hal penggunaan bahasa. Dalam wayang digunakan bahasa Betawi campur Sunda. Dalam dunia pewayangan Betawi dikenal dua jenis wayang: Wayang Kulit (dalang terkenalnya H. Surya Bonang alias Ki Dalang Bonang), serta Wayang Golek (dalang terkenalnya Tizar Purbaya). Umumnya, wayang Betawi mengambil lakon tentang kehidupan kerajaan di dunia pewayangan. Ada pula tokoh komedi Udel (persamaannya Cepot di dalam Sunda).
10.  Tari Kcak adalah pertunjukan seni khas Bali yang diciptakan pada tahun 1930-an dan dimainkan terutama oleh laki-laki. Tarian ini dipertunjukkan oleh banyak (puluhan atau lebih) penari laki-laki yang duduk berbaris melingkar dan dengan irama tertentu menyerukan “cak” dan mengangkat kedua lengan, menggambarkan kisah Ramayana saat barisan kera membantu Rama melawan Rahwana. Namun demikian, Kecak berasal dari ritual sanghyang, yaitu tradisi tarian yang penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar, melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur dan kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat. Para penari yang duduk melingkar tersebut mengenakan kain kotak-kotak seperti papan catur melingkari pinggang mereka. Selain para penari itu, ada pula para penari lain yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana seperti Rama, Shinta, Rahwana, Hanoman, dan Sugriwa. Lagu tari Kecak diambil dari ritual tarian sanghyang. Selain itu, tidak digunakan alat musik. Hanya digunakan kincringan yang dikenakan pada kaki penari yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana. Ini merupakan akulturasi kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia
Faktor-Faktor Pendorong
A.  Faktor Internal :
  • kesadaran diri sebagai makhluk sosial
  • tuntutan kebutuhan
  • jiwa dan semangat gotong royong
B.   Faktor External :
  • tuntutan perkembangan zaman
  • persamaan kebudayaan
  • terbukanya kesempatan berpartisipasi dalam kehidupan bersama
  • persaman visi, misi, dan tujuan
  • sikap toleransi
  • adanya kosensus nilai
  • adanya tantangan dari luar
C.   Homogenitas Kelompok
  Dalam masyarakat yang kemajemukannya rendah, integrasi sosial akan mudah dicapai
D.  Besar Kecilnya Kelompok
  Dalam kelompok kecil integrasinya lebih mudah.
E.   Mobilitas Geografis
  adaptasi sangat diperlukan mempercepat integrasi.
F.    Efektivitas Komunikasi
 Komunikasi yang efektif akan mempercepat integrasi.
Pada dasarnya stres terjadi ketika individu menafsirkan yang salah terhadap keterlibatannya dalam lingkungan sosialya, sehingga berdampak dalam fisik, psikologis, maupun sosialnya. Stres dapat terjadi pada setiap kehidupan baik dalam lingkungan yang lama maupun lingkungan baru, baik dalam lingkungan yang sama budayanya maupun yang berbeda budaya. Stres yang terjadi karena adanya proses pertemuan budaya yang berbeda disebut Stres Akulturasi. Stres akulturasi sebagai gejala yang dialami individu ketika stesor-stresor yang berasal dari perbedaan antara kebudayan baru yang tidak sesuai dengan pribadi mereka dan tidak sesuai dengan kebudayan yang dianut sebelumnya. Furnham dan Bochner (dalam Berry, 1999) menggunakan istilah kejutan budaya (Culture Shock) untuk mendifisinikan hal tersebut.
Pengertian
relasi internakultural adalah budaya yang berbeda dipahami, dinilai,diterima, atau dikeluarkan (ditolak) dalam satu perspektif dan tindakan budayatertentu (penulisan sastra) sehingga dalam proses tersebut secara imajinatif menujudan menjadi satu bentuk cara kehidupan tertentu yang berbeda dengan kenyataansesungguhnya.
sudut pandang interkulturalisme adalah suatu upaya yang mencoba menjelaskan relasi-relasi antarbudaya, proses- proses negosiasi, dan hal-hal apa saja yang berpengaruh terhadap relasi dannegosiasi tersebut, dan mengapa hal tersebut terjadi.
faktor yang berpengaruh terhadaprelasi-relasi antarbudaya tersebut. Hal-hal itu antara lain faktor  : politik, ekonomi, pendidikan, agama, teknologi, seksualitas, tradisi, dan gender. Dalam kesempatanini tidak semua faktor dibicarakan, tetapi hanya membicarakan faktor agama, politik, dan ekonomi. Keinginan manusia untuk  berkelompok, atau bermasyarakat, atau bahkan berbangsa dan bernegara berdasarkan unsur etnis, ras, agama, daerah, atau kebahasaan, merupakan faktor  politik yang layak diperhitungkan sehingga faktor tersebut memisahkan ataumempertemukan individu-individu. Persoalannya adalah bagaimana manusiamempraktikkan politik dalam mengelola kelompok, masyarakat, bangsa, ataunegara tersebut.
Di samping faktor politik, ekonomi juga merupakan faktor utama dalam proses perjumpaan antarbudaya. Faktor ekonomi jauh lebih aman daripada faktor  politik. Sebagai misal, dalam beberapa novel, karena seseorang miskin, merekamelakukan migrasi (ke kota) untuk mencari penghidupan yang lebih layak. Karenamereka migrasi, seseorang bersentuhan dengan budaya yang berbeda dari tempatasalnya. Boleh dikata, sebagian besar novel menceritakan bagaimana para tokoh berpindah dari tempat asalnya, dan dalam proses itu tokoh mendapat pengalamankultural yang berbeda, dan menyebabkan tokoh tersebut menjadi sesuatu yang berbeda berkat proses interkultralisasi.
Agama formal merupakan sesuatu yang dianggap sebagai motor atausumber inspirasi bagi berbagai tindakan sosial dan ekonomi, atau sebagai konsepfilosofi dan etik yang berpengaruh terhadap masyarakat (Weber, 1958). Agama berperan sangat penting dalam berbagai kebudayaan sehingga agama dianggapsalah satu pemicu berbagai tindakan kultural, dalam berbagai tujuan dankepentingan. Berdasarkan pembacaan terhadap sejumlah novel-novel pada masaOrde Baru, maka agama formal perlu diperhitungkan sebagai salah satu faktor  penting bagi proses interkulturalisasi, tetapi dalam pengertian terbatas. (Dalamkonteks yang berbeda, bandingkan juga dengan tesis Leur, 1955).Hal tersebut dimungkinkan karena hal itu masih berkaitan denganterjadinya semacam kesungkanan untuk menjadikan agama sebagai satu sistemnilai yang membedakan orang per orang dan hal itu masih berkaitan dengan politik SARA yang diterapkan oleh negara (Orde Baru) dalam mengelola masyarakatIndonesia, termasuk dalam mengelola atau mengontrol imajinasi para pengarangIndonesia. Paling tidak novel terkenal karya Umar Kayam,
 Para Priyayi ,memperlihatkan  kecenderungan tersebut. Beberapa novel Kuntowijoyo dan AhmadTohari memang menyinggung persoalan dan peranan agama dalam prosesinterkulturalitas. Akan tetapi, posisi agama dalam beberapa novel tersebutditempatkan sebagai suatu agama yang tidak formal, yakni berkaitan dengankepercayaan dan keyakinan individu yang bersifat kultural.Di balik faktor-faktor di atas, secara kultural terdapat sejumlah kekuatandiskursif lain sebagai pembentuk kebudayaan yang ikut menentukan perbedaan dan persamaan budaya sehingga faktor-faktor tersebut menjadi berbeda atau samadalam aktualisasinya. Hal-hal itu antara lain; pandangan dunia, kepercayaan, nilai-nilai, pengalaman sejarah, mitos(logi), dan berimplikasi terhadap otoritas status(struktur sosial) dalam masyarakat bersangkutan (Asante, 1980). Berbagai kekuatan4 diskursif pembentuk tersebut yang menyebabkan berbagai perbedaan dan kesamaansetiap individu sebagai anggota masyarakat.. Interkulturalisme Sebagai Strategi Proses dan mekanisme interkulturalisasi di Indonesia memperlihatkangejala yang berbeda untuk setiap lokalitas dan konteksnya. Pada masa-masa dulu, proses interkulturasi berjalan lambat. Hal ini berkaitan dengan sarana danmekanisme pertemuan antarbudaya yang belum memadai seperti transportasi dansistem komunikasi yang belum berkembang. Itulah sebabnya, lokalisme budayamasih sangat tinggi karena masyarakat secara kultural masih terikat dengankepentingan lokalitasnya (nilai-nilai, norma-norma, adat istiadat, agama,kepercayaan-kepercayaan lokal). Segala hal yang berbau lokalitas dijadikan identitas oleh masyarakatnya karena masyarakat juga tidak memiliki banyak  pilihan.









0 komentar:

Posting Komentar

 
FiHan© DiseƱado por: Compartidisimo